Rapmengkel’s Weblog

be el te

September 16, 2008 · 7 Comments

Dengan rasa prihatin setelah menyaksikan acara televisi pagi ini, saya berangkat ke kantor agak terlambat. Sejak tadi malam, secara berulang-ulang dan mungkin oleh seluruh stasiun televisi yang tertangkap di rumahku menayangkan tragedi kemiskinan di Pasuruan. Masih terbayang di benakku, wajah-wajah renta ibu yang berhimpitan, kehabisan nafas untuk mendapatkan tigapuluh ribu …

Tiba-tiba mataku tertegun melihat Ny. Sm boru Na berdiri di antara kerumunan manusia yang antri di depan sebuah Kantor Pos tidak jauh dari rumahku.

Dengan berpakaian seadanya tanpa polesan bedak di wajah, tak mampu mengelabui mata orang yang memandang bahwa Ny. Sm bukan termasuk kelompok penerima be el te. Nyatanya, saya melihat dia menggenggam berkas tebal di tangannya, turut antri dengan sabar.

“Ngapain ito ?”, tanyaku mengejutkannya.

“Oh Ito, baru mau berangkat kerja ya ?” dia membalas .

“Ito ikut antri tah, sejak kapan jadi fakir miskinĀ ?” tanyaku bercanda sambil melirik tumpukan gelang keroncong di tangannya.

“He he, nggak lah Ito. Ini loh, mau cairkan berkas orang-orang ini ….” jawabnya sambil menunjukkan sebanyak 17 berkas pencairan be el te .

“Lho, ito dapat dari mana koq sampai ada 17 ?” ( sejujurnya aku heran, tadinya bukan niat untuk investigasi)

“Oooo, sebenarnya lebih Ito. Sebagian kemarin udah. Ini yang kebagian hari ini.” jawabnya menjelaskan.

“Emang punya siapa, koq jadi Ito yang antri ?”

“Kan orang-orang ini udah pake uangku bulan lalu …..”, demikian Ny. Sm menjawab membuatku mulai paham maksudnya.

“Sorry Ito, ingin tau aja nih : bagaimana ito membuat aturan mainnya?”

“Setiap nilai seratus ribu, saya bayarkan delapan puluh ribu. Samalah dengan yang tahun lalu”, jawab ito ini dengan lancarnya.

“Jadi udah mulai tahun lalu ito kerjakan ini. Jeli juga ito membaca peluang ya ?” tanyaku memuji.

“Ya ialah ito, habis kalau dengan Kartu Pensiun agak rumit pencairannya………….” dengan senyum bangga dia menjelaskan.

“Maaf lah ito, aku hanya bayangkan ketika ito mengundang kami natalan di gerejamu. Ito begitu bersemangat menyampaikan agar kita lebih peduli kepada masyarakat kecil, dan kita tidak punya hak untuk memeras mereka karena mereka juga makhluk Tuhan…” kata-kata ini tidak mampu keluar dari mulutku sambil ku beranjak naik ke mobil melanjutkan perjalananku ….

Categories: Umum

7 responses so far ↓

  • henryhisar // September 16, 2008 at 4:56 am | Reply

    Itulah dia namanya manusia munafik………

    sihomb:
    mudah-mudahan, dia gak ikut baca nih …..

  • bonar // September 16, 2008 at 6:45 am | Reply

    hahahaha…

    rupanya masih ada yah kegiatan inang-inang batak yang padalanhon hepeng…saya pikir budaya itu sudah punah karena skrg udah banyak kartu kredit..hehehe..

    sihomb:
    kartu kredit g ada kaitannya dengan padalanhon hepeng, dia terkait langsung dengan “debt collector”….. he he he
    trus, ito itu niatnya mungkin membantu koq …???

  • nirwan panggabean // September 16, 2008 at 11:18 pm | Reply

    Horas…
    Batak memang kreatif…hampir semua cara di lakoni demi menghasilkan uang, terutama wanita Batak.
    Saya juga menemukan wanita Batak yang menjadi Pramuwisma….waktu saya ada di Taiwan (Kaoh shiung dan Taipeh), Malaysia (Kuala Lumpur, Johor Bahru), Singapore, bahkan di Hong Kong….saya kagum perjuangan mereka yang tabah menghadapi semua tantangan.
    Sayangnya di Hong Kong belum ada HKBP padahal lumayan banyak orang Batak di sana…Konjennya juga orang batak Lae PAIMIN TURNIP, ada satu restoran indonesia yang bernama RESTAURANT VICTOR SIRAIT milik Lae Sirait di daerah Causway Bay – Hong Kong Island.

    sihomb:
    a. kalau gitu, lae lebih simpati kepada siapa : ibu2 yang sampai meninggal di pasuruan saat antri zakat 30.000 atau ito kita ini ???
    b. mudah2an kantor pusat hkbp membaca pertanyaan lae ttg keberadaan hkbp di hongkong dan bisa menyemangati teman2 kita di sana ..
    c. gimana cara menghubungi restoran sirait itu, kali aja bisa jadi pemasok bumbu seperti andaliman …., kayaknya via tkw yang 2 kali sebulan dari surabaya bisa direalisasikan …

  • nirwan panggabean // September 19, 2008 at 12:31 am | Reply

    Horas…
    *a) sebenarnya saya sedih juga mendengar berita ada yang sampai meninggal karena antri Rp30.000…seharusnya kan lebih aman kalau di transfer aja melalui rekening…..seperti biasa bos bos itu…..
    *b) sebagai informasi….Lae PAIMIN TURNIP Consulat G(J)eneral di Hong Kong adalah pemilik LARCO RECORDS, ini beliau katakan waktu saya cerita cerita dengan beliau, mungkin Lae pernah melihat cassette produksi Larco Records.
    *c) Itulah masalahnya Lae….sebenarnya beliau pernah bertukar kartu nama dengan saya…….tapi karena saya ini “orang susah” yang selalu pontang panting ke mana mana….jadi kartu namanya terjatuh entah di mana…..sebenarnya saya sering bertemu dengan orang Batak di perantauan, tapi itu tadi…..saya ini “orang susah” sering pindah pindah….jadi administrationnya hancur sekali….
    Waktu saya ada di Santiago de Chile saya bertemu dengan Lae Nababan….pemilik perusahaan Crane Lifting Company, isterinya keturunan German Juga….dia juga bilang kalau dia pemilik sebagian GRUASS DE MONTAGE TECSA salah satu top 10 company terbesar di Chile, Galangan kapal produsi kapal kapal penangkap ikan…..Juga Lae Hutauruk di SEKOWA (north California) di daerah Red wood National Park….beliau adalah pemilik Redwood Country Inn….sayangnya anak anak mereka sudah tidak tertarik lagi semua hal tentang Batak…..sayang…..
    Mudah muadahan kalau saya kembali bertemu saya akan lebih serius lagi menyimpan data datanya…

    sihomb:
    - lae pangab…, mana lah sempat pak haji itu nanya nomor rekening 5000 orang desa itu ???
    - mangkanya , tiru tuh si kristiono .. lihat postingan sebelumnya

  • parlobutala // September 19, 2008 at 3:13 am | Reply

    Cerita diatas, memang anekdot versi Rapmengkel.
    Tapi beberapa hari lalu saya ketemu kejadian sesungguhnya, dimana inang-inang boru halak hita, menahan kartu BLT sebagai agunan pinjaman….
    Mungkin juga ada yang menggunakan kartu Gakin (keluarga miskin).. (yang ini saya belum ketemu..)

    Dia memang berprofesi “padalanhon hepeng” di kawasan padat di Surabaya.

    sihomb:
    dohot kartu jokker mi tioponna asa unang main sebelum digarar angka utang …. ha ha ha

  • Samuel // September 19, 2008 at 8:37 am | Reply

    Parlobutala benar! di sekitar kita tindakan halak hita sudah jadi gunjingan orang.,
    Pertanyaanya: masalah ini sangat dihindari para pendeta untuk bahan khotbah ?
    Maaf bila tidak berkenan.
    Horas

    sihomb:
    yang aq lihat ( ini serius lo ), pendeta menghindari itu untuk bahan khotbah sebenarnya mereka mau bertindak bijak, unang gabe partuktukan i di angka na umbegesa.
    inilah indahnya melayani batak, boi do situlluk mata ni horbo alai bisuk ma songon darapati.
    sada na i sonto : doa sebelum makan. kadang, molo holan kue ndang pola martangiang; tapi kalo enaknya lompannya, panjanglah tangiangnya.
    apa yang terjadi kalau kita hentikan orang yang sudah makan kue, trus kita ajak doa dulu ?
    bisa jadi pargasipan kan ??

  • Hamba Allah // November 19, 2008 at 12:25 pm | Reply

    memberi 80 ribu menerima 100 ribu? Bukannya sama aja ama lintah darat? tapi ya kok bisa menceramah untuk memperdulikan rakyat kecil?

    Sorry lae, masih sibuk aku geleng2 kepala…

    sihomb:
    berarti kita di posisi yang sama lae …., tapi kenyataannya masih banyak …
    oh ya Lae …, kita dah pindah rumah nih ke
    http://rapmengkel.com
    ketemu disana aja yah …, yang ini udah jarang ditungguin

Leave a Comment