“Horas Lae…”, suara itu mengejutkanku dari balik pagar rumah.
Ternyata suara itu datang dari dua orang pengendara sepeda motor berpakaian lapangan lengkap: jacket, helm, kacamata dan sarung tangan membuatku tidak langsung dapat mengenali mereka.
Tanganku yang masih belepotan dengan serbuk pakis kukibaskan seadanya saja, saya segera membuka pagar.
“Ba, horas … Lae Manalu do hape ?” sapaku setelah helm teropong di lepas dari kepalanya.
“Ayo masuk Lae ….” ajakku sambil kurapikan posisi pot anthurium yang masih berantakan di terras rumah. Memang kebetulan sore itu aku menyempatkan diri mengganti pot “wafe of love” – gelombang cinta yang sudah terlihat kecil dibandingkan tanamannya.
“Udah lah Lae, di sini aja. Lae teruskan aja kerjaannya…., kami kebetulan lewat koq” kata Lae si Manalu yang tidak merasa sungkan lagi langsung mengambil kursi dari dalam rumah.
“Kalau gitu, kita ngopi disini aja ya ?” kataku sambil teriak arah ke dalam rumah agar dibuatkan kopi tiga gelas.
“Kalian darimana ?” tanyaku memulai pembicaraan
“Ah Lae, dasar sial kami hari ini…” jawab Manalu sambil tertawa melirik mitranya yang juga orang Batak.
“Sudah tiga order yang kami kunjungi sore hari ini”, Manalu mulai bercerita.
Yang pertama tadi ; seorang kakek tua yang melayani kami. Jawabannya hanya dengan kata-kata “mboten sumerap……..”, “sanes kula…….” gak tau apa lagi yang dia bilang tadi itu. Palak pun aku dibuatnya, saya banting pintunya saya suruh anaknya supaya telpon ke Flexiku.
“Ha ha ha, Ayo, minum dulu kopinya…, jangan bawa marahmu ke sini”, aku mencoba menetralisir emosinya, dan dia sambut dengan mengangkat gelas panas sambil tertawa.
Yang kedua tadi….., katanya melanjutkan . Kartu Nama seorang Pengacara lah dikasi sama aku. Katanya, dia sudah melimpahkan persoalan ini kepada Pengacara itu. Baahh…, paling juga duaratus ribu dapatku dari sini, masya aku harus berurusan dengan Pengacara. Kubilanglah sama dia :” Bilang sama Pengacaramu itu, gak usah ngurus tagihan seperti ini. Karena biar bagaimana pun, kau yang punya utang dan kau harus bayar utangmu itu….”, semakin terlihat rona kekesalan di wajahnya.
Trus yang ketiga, isterinya yang melayani kami. Melihat dari caranya melayani kami, kayaknya bukan pertama kali ini mereka didatangi oleh teman seprofessi kami. Dia diam membisu, dengan muka tak bersahabat.
“Hey, Bu…, janganlah dongok gitu mukamu. Panggil suamimu untuk menyelesaikan ini. Dan Ibu gak perlu membohongi kami, karena kami tadi sudah melihat suamimu masuk ke rumah…”
Isterinya beranjak ke kamar. Tak lama kemudian, dia keluar …. masih sendiri.
“Mana suamimu Bu, yang gak beraninya dia keluar ? Kalau mengutang berani, kalau mau bayar takut. Atau kau yang mau dikorbankan suamimu untuk melayani penagih seperti kami?” aku bertanya agak kasar….
Trus Lae…., katanya mengalihkan pembicaraan ke arahku. Tiba-tiba mataku tertuju kepada sebuah pigora di dinding. Aku bacalah pigora itu, ternyata …., Tarombo – daftar silsilah - hula-hulaku.
Aku ajak lah Lae ini segera keluar, sebelum suaminya benar-benar keluar. Kenapa berkasnya tidak menyebut marga ? Kenapa aku harus kebagian berkas ini ?
Dari situlah kami terus ke rumah ini Lae …, buang sial lah sambil minum kopi .., katanya mengakhiri ceritanya.
14 responses so far ↓
bonar // September 16, 2008 at 6:53 am |
ternyata tarombo batak masih mampuh juga menangkal kesangaran debt kolektor yah…hahahaha…
itu sisi posotifnnya…
sisi negatifnya…dari dulu, dalam cerita-cerita seperti ini kenapa yah orang batak yang selalu di jadikan aktor yang galak dan tukang tagih…hahaha…
kula mboten sumerep cak…!!!
sihomb:
kayaknya gitulah…, jadi perlu juga ada simbol2 itu di rumah …
erwinsapta // September 16, 2008 at 7:21 am |
Pertamax… resiko pekerjaan lah namanya itu. Syukur udah enggak berurusan lagi dengan yang namanya Debt Collector.
sihomb:
pernah dihadapkan dengan pengacara juga ? orang batak lagi yaa …??
Jontri Pakpahan // September 16, 2008 at 1:00 pm |
benar-benar sial kali ya…
setiap kerjaan pasti adalah resikonya.
beta ma hita rapmengkel…..:):)
sihomb:
kalau lae si manalu ini, sialnya karena sempat bentak2 inang baonya …??
memang kebetulan bukan asli batak sih, na di paraja do …
nirwan panggabean // September 16, 2008 at 11:01 pm |
Horas…
Kalau saya nanti ke surabaya, saya sudah tau dimana mendapatkan kopi gratisss….
sihomb:
monggo , pinarak lae …
di hkbp kedondong kopi dan teh selalu tersedia gratis setiap hari minggu untuk jemaat.
(ini serius lo, tersedia +/- 50 gelas teh dan 75 gelas kopi)
klo lae senang makkan ketupat sibolga, kebetulan juga ada dongan tubu nya lae pintar masak ketupat … uueeennnnaaaaakkkk tenannnn.. (yang ini pesan dulu)
imme hutajulu // September 17, 2008 at 8:24 am |
nanya dong bang,
debt collector itu ada etika profesional nya ga?
batasan2 dalam berbicara gitu misalnya?
sihomb:
hoooiiii angka dongannn…, adong na boi mangalusi ???
klo yg aq tau, ada pernah teman sampai nampeleng ibu2 setelah mencegat di mobil …..
eh…, g taunya isteri polisi …. haccur juga lah dia sebelum di sel
David Simamora // September 17, 2008 at 9:04 am |
HKBP Manyar juga tersedia … teh & kopi. benar2 gratis.
sihomb:
kira2 ada hkbp lain yang lebih hebat dari surabaya ??? serba gratis …..
(tapi sayang, wifi gratis di kedondong udah dicabut euy …)
elumban // September 17, 2008 at 4:27 pm |
asyik kali greja klian di Jatim ini
sihomb:
kitanya yang bilang itu enak …., orang madura bilang “tak meste”
buktinya …?? banyak juga jemaat ikuti kebaktian di gereja lain
lintong nababan // September 18, 2008 at 4:50 am |
Jawab pertanyaan immne hutajulu
Sebenarnya collector juga di ajarkan etika profesi, Baik itu cara mengidentifikasi objeck(target), cara berbicara,dll.Hanya saja pada saat si collector di lapangan semua teori yg diajarkan lupa. Maklum dah minum alkohol dulu.
dan yg paling serius lagi collector diajarkan
“SESAMA COLLECTOR DILARANG MENDAHULU”
sihomb:
ini dia jawaban berdasarkan…… pengalaman ??
tapi soal minum alkohol, di kampungku dulu sintua mau maragenda aja minum dulu koq …katanya biar berani …???
http://www.lintongnababan.wordpress.com
imme hutajulu // September 18, 2008 at 7:35 am |
tapi soal minum alkohol, di kampungku dulu sintua mau maragenda aja minum dulu koq …katanya biar berani …???
baah… nga maup…
sihomb;
kayaknya sih g maup …, mungkin karena udah dipasomal2 lah ya
ruas juga g peduli2 pisan koq …
bungamelati // September 19, 2008 at 8:55 am |
idih.. enak kali lah greja kalian itu ya? kalo di greja kami di bekasi dabah, harus belinya di warung… ( krn gak ada anggaran utk itu… )
“tapi soal minum alkohol, di kampungku dulu sintua mau maragenda aja minum dulu koq …katanya biar berani …??? ”
==> Huhilala… ito sihombing on pe, molo naeng mamosting, jumolo do ra minum kamput/tuak ate… asa lassaaarrrrrr, ninna…..
sihomb:
- kopi gratisan …. = hepengnya ruas itu juga nya kesitu, bagaimana pande2nya parhalado aza
- aq minum kamput ?? na jeoulous, aq memang suka minum. waktu aq di pasar sambu medan (hayo, siapa di antara pembaca yang pernah jadi preman di pasar sambu …??); kalo sekarang ? marah pula nanti mamaku ..??
Aku juga yakin
lintong nababan // September 19, 2008 at 9:03 am |
aahhhh… cerita soal sintua minum alkohol
gara2 sintua minum tuak sebelum maragenda yang terjadi seperti ini
Nunga masuk be sude jemaat, dungi masuk ma muse sintua dohot parjamita.
pemain organ nunga siap2 memainkan musik.
sihomb:
berarti ruasnya juga sudah minum dulu …, kan itu dalam suasana natal
(aha do tahe judul ni lagu BE no. 51, na hafal au no 50 do :”Marende ma hamu …..”)
sian jolo sintua memandu lagu:
Sintua; Marende ma hita sian buku ende no.51 ayat 1-3
Biasana molo dung dipandu songon i, par organ jolo dimainkan do satu bait lagu i baru marende ma jemaat.
hape ditingki namalu organ on dope par organ, dibereng sintua on ma seekor anjing melintas di pintu gereja
gabe dang konsentrasi be ibana ala nga tong mabuk.
didok ibana ma songonon ” Tutup hamu pintu unang masuk biang i…”
Bersamaan dohot sintua selesai ngomong, Par organ pe nunga selesai memainkan musik satu bait….
Jemaat pe dang sadar nanidokni sintua nakin, gabe marende ma jemaat i… songon na nidok ni sintua i sian jolo
” tutuuuupp hamu… pintuiiii
unang masuk biang iii…
sogonon ma jadina molo mabuk sintua..
ha…haa…
asa mekkel..
http://www.lintongnababan.wordpress.com
desy pardd // September 19, 2008 at 9:22 am |
kalau lae si manalu ini, sialnya karena sempat bentak2 inang …??
memang kebetulan bukan asli batak sih, na di
paraja do …
” Bursik dehhh…! tar “bao ” itoan i atehh holan alani profesina… ” Emang enakkkkk….???
Btw, bagi donk.. ” wafe of love” nya ito! Molo pagellenghu pot nai ito, adong do di son pot naumbalga… wakakakkkkkkkk…….
Rajin juga ya ito ngurus kembang, anggo bapa ni dakdanak dijabu holan mamereng2 do, alana mamiaro pidong do lomo ni rohana, hape dung musim flu burung, dang adong be pidong na….. ( unang mekkel da ito…. ) hehehhe
sihomb:
cem mana pula gak mekkel aku ??? trus, hobby yang laen menyanyi dan paling semangat kalo tarik referein lagu ya ?? mangkanya jangan nyanyikan lagu Rosita, pintor ditarik ibana annon ….
klo anthurium di rumah, sekedar2 aja ito ku ; jemani ada 6 pot, bintang kejora hanya 3, WOL nya … terlanjur banyak, pride sumantra sisa 2 … eh kayak yang mau laporan aku
tapi coba nanti membahas permintaan ito …?? = ago ito…, kebetulan kesenangan ni edam do i ..
alasan yang akan muncul ….
desy pardd // September 19, 2008 at 1:34 pm |
tak bisa nyanyi dia ito, lebih pintar nya aku nyanyi sama anakku ( lha.. wong batuk aja wis fales…. kepribennn tahh… )
Mengenai permintaanku ini, aku jadi ingat waktu aku pulang ke siantar. Adalah tetanggaku anak kecil, dia selalu marbahasa indonesia walaupun marpasir2. Kebetulan aku lagi ngupas nenas, lalu dia bilang gini: bagilah aku nanasnya, “lakkatnya” pun aku maunya”
Jadi ito, aku mau kayak anak kecil tetanggaku itu, kalo ito gak mau kasih “wafe of love” nya , “urat” nya pun aku maunya… wakakkkkk
Ito, kurasa bahagia kalilah si eda itu ya, abisnya ito ngelawak mulu c..! Tolong sampaikan permintaanku ini sama eda ya?? Salam buat keluarga … Horas
sihomb:
klo gitu, ambil di bandar aja lah …, aku dah titip di sana
btw, yg ngelawak siapa ???
Gerfandi Siahaan // October 7, 2008 at 9:45 am |
di portibion, holan MUDAR ni Batak ma na boi makkuling.alani dibereng tarombo i, gabe makkuling ma mudarna,hahahaha