Sesaat setelah saya menstart mobil, untuk berangkat kerja.
“Pendeta benar-benar kehilangan Kharisma….”, demikian pernyataan akhir seorang Pembawa Acara sebuah Radio Swasta dalam acara rutin mereka “News On Air”, dan disusul dengan memperdengarkan beberapa spot iklan.
“Bah, berani kali Radio ini bikin issu seperti ini?”, pikiran itu membuatku kembali mematikan mesin mobil .
“Belum terlambat.., “ pikirku dan segera merogoh Flexi dari kantong untuk mencoba mengklarifikasi pernyataan yang saya dengar tadi.
“Met pagi Mas, saya ingin mengklarifikasi pernyataan Mas tadi tentang Pendeta kehilangan Kharisma”, begitu saya memulai pembicaraan dengan si Pembawa Acara yang ternyata tersambung langsung dengan pemancar dan dapat didengar oleh siapapun yang kebetulan mendengar siaran itu. Sadar akan situasi itu, saya semakin semangat ingin menjejal berapa pertanyaan untuk meminta pertangungjawaban si Pembawa Acara.
“Mas punya dasar gak untuk membuat pernyataan seperti itu ? Siaranmu didengar oleh banyak orang lo Mas, dan sifatnya universal…”, saya melanjutkan pertanyaan.
“Maaf Pak, tolong radionya dikecilkan agar tidak feed back..”, si Pembawa Acara memanduku, dan kuturuti permintaannya. Saya ingin segera mendengar jawabannya.
“Begini Pak, memang kita hanya informasi via phone aja yang dilayani oleh desk keeping …., kenapa Pak ada yang salah dengan berita itu ?” si Pembawa Acara memberikan jawaban yang saya anggap sebagai jawaban nyeleneh.
“Apa kau bilang Mas ? Hanya informasi via phone kau berani menyebut Pendeta kehilangan Kharisma ? Bisa kulaporkan kau nanti Mas …..”, suaraku meledak marah.
“Kita yang Jemaat Kristen aja mikir dua kali menyebut seperti itu ….”
“Lho,Pak tunggu dulu. Sebenarnya ada apa sih Pak. Koq Bapak marah begitu ..?” si Pembawa Acara menjawab tak merasa bersalah sedikitpun .
“Tolong Pak, kalau Bapak ada informasi yang bisa melengkapi tolong disampaikan Pak, mungkin berguna untuk pendengar lain …” lanjut si Pembawa Acara membuatku makin tersinggung.
“Maksudmu apa lagi dengan kata-kata berguna untuk pendengar lain itu Mas ?”, seranganku kembali kulancarkan tanpa mengurangi intonasi kebatakanku.
“Lho, koq jadi gini sih Pak?”
Apa salah kalau saya sebut, seorang Pendeta yang sedang melayani dalam sebuah Kebaktian Minggu benar-benar kehilangan Kharismanya ?
Ada yang salah dalam kata-kata itu Pak ?
Informasi dari orang yang menelepon ke studio kami tadi menyatakan ; bahwa mereka sudah tanya kepada Tukang Parkir, dan Tukang Parkir hanya menjawab tidak tau aja tentang Kharisma 125 milik Pendeta itu …….
Aku matikanlah segera Flexiku….., malu pun aku jadinya …untung tadi aku gak sebut namaku . He he he