Rapmengkel’s Weblog

Pendeta Kehilangan Kharisma

September 8, 2008 · 9 Comments

Sesaat setelah saya menstart mobil, untuk berangkat kerja.

 

“Pendeta benar-benar kehilangan Kharisma….”, demikian pernyataan akhir seorang Pembawa Acara sebuah Radio Swasta dalam acara rutin mereka “News On Air”, dan disusul dengan memperdengarkan beberapa spot iklan.

 

“Bah, berani kali Radio ini bikin issu seperti ini?”, pikiran itu membuatku kembali mematikan mesin mobil .

“Belum terlambat.., “ pikirku dan segera merogoh Flexi dari kantong untuk mencoba mengklarifikasi pernyataan yang saya dengar tadi.

 

“Met pagi Mas, saya ingin mengklarifikasi pernyataan Mas tadi tentang Pendeta kehilangan Kharisma”, begitu saya memulai pembicaraan dengan si Pembawa Acara yang ternyata tersambung langsung dengan pemancar dan dapat didengar oleh siapapun yang kebetulan mendengar siaran itu. Sadar akan situasi itu, saya semakin semangat ingin menjejal berapa pertanyaan untuk meminta pertangungjawaban si Pembawa Acara.

 

“Mas punya dasar gak untuk membuat pernyataan seperti itu ? Siaranmu didengar oleh banyak orang lo Mas, dan sifatnya universal…”, saya melanjutkan pertanyaan.

 

“Maaf Pak, tolong radionya dikecilkan agar tidak feed back..”, si Pembawa Acara memanduku, dan kuturuti permintaannya. Saya ingin segera mendengar jawabannya.

 

“Begini Pak, memang kita hanya informasi via phone aja yang dilayani oleh desk keeping …., kenapa Pak ada yang salah dengan berita itu ?” si Pembawa Acara memberikan jawaban yang saya anggap sebagai jawaban nyeleneh.

 

“Apa kau bilang Mas ? Hanya informasi via phone kau berani menyebut Pendeta kehilangan Kharisma ?   Bisa kulaporkan kau nanti Mas …..”, suaraku meledak marah.

“Kita yang Jemaat Kristen aja mikir dua kali menyebut seperti itu ….”

 

“Lho,Pak tunggu dulu. Sebenarnya ada apa sih Pak. Koq Bapak marah begitu ..?” si Pembawa Acara menjawab tak merasa bersalah sedikitpun .

“Tolong Pak, kalau Bapak ada informasi yang bisa melengkapi tolong disampaikan Pak, mungkin berguna untuk pendengar lain …” lanjut si Pembawa Acara membuatku makin tersinggung.

 

“Maksudmu apa lagi dengan kata-kata berguna untuk pendengar lain itu Mas ?”, seranganku kembali kulancarkan tanpa mengurangi intonasi kebatakanku.

 

“Lho, koq jadi gini sih Pak?”

Apa salah kalau saya sebut, seorang Pendeta yang sedang melayani dalam sebuah Kebaktian Minggu benar-benar kehilangan Kharismanya ?

Ada yang salah dalam kata-kata itu Pak ?

Informasi dari orang yang menelepon ke studio kami tadi menyatakan ; bahwa mereka sudah tanya kepada Tukang Parkir, dan Tukang Parkir hanya menjawab tidak tau aja tentang Kharisma 125 milik Pendeta itu …….

 

Aku matikanlah segera Flexiku….., malu pun aku jadinya …untung tadi aku gak sebut namaku .  He he he

→ 9 CommentsCategories: Umum

Pendeta juga manusia

September 7, 2008 · 10 Comments

(Selingan Khotbah Pdt. David Silaban -Pendeta HKBP Ujung Surabaya- di HKBP Kedondong Surabaya, Minggu 7 September 2008)

Yang namanya perselisihan antara suami isteri bukan hanya terjadi pada Jemaat. Bahkan Pendeta pun, yang mengajarkan Jemaatnya agar jangan menyimpan amarah hingga matahari terbit kembali , juga pernah mengalaminya . Hal itu yang terjadi pada keluara saya. Pendeta David mengawali selingan khotbahnya.

Buntut perselisihan kemarin -hari Jumat-, masih terbawa hingga Sabtu. Kami berdua masih saling mengunci mulut, tidak ada yang memulai pembicaraan. Sabtu malam Minggu, saya sebenarnya sudah agak malu pada diriku sendiri. Saya kurang tau, apakah saat itu saya lagi membutuhkan sesuatu atau seseorang sebagai pemecah kebekuan di antara kami ? Saya agak bingung, sementara masih ada bisikan iblis memuji saya sebagai seorang laki-laki yang tidak harus mengalah kepada isteri.

Lebih dari 3 jam saya berusaha untuk konsentrasi, meresapi bahan khotbah besok pagi, tapi koq tidak sedikitpun terasa penyertaan Tuhan dalam persiapanku.

Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kebekuan ini harus dicairkan. Pendeta David pun membuat komitment dalam pikirannya.

Tapi bagaimana caranya ??? Masya saya yang harus memulai ?

Jam 11 malam.

Isteriku baru selesai menyetrika baju yang akan dipakai olehnya untuk ke Gereja besok. Wah, akhirnya kesempatan itu pun datang juga.  Baju kesukaannya, kebaya berwarna keemasan dengan kancing di bagian belakang.

Kami tidak mempunyai pembantu. Kami di rumah hanya bertiga; saya, isteriku dan anakku yang belum genap 2 tahun.

Hari kemenanganku sudah di depan mata, dia pasti minta tolong kepada saya untuk mengancingkan bajunya. Karena dia pasti tidak bisa mengancing sendiri.

Pagi harinya, jam 6 saya sudah selesai mandi. Isteri saya menyusul setelah menyiapkan makanan Ezekkiel anak saya.

Sengaja saya berlama-lama di kamar bacaku, bersiul-siul menunggu panggilan minta tolong untuk mengancing bajunya. Kalau ini, kenalah kau …, pikirku dalam hati.

“Makanlah kau Kiel……”, isteriku sedikit berteriak menyuruh anakku makan.

Ah, pasti arah pembicaraannya ke saya nih, nggak mungkinlah anak belum berusia 2 tahun disuruh makan sendiri. Beberapa saat saya menunggu, tak sepatah katapun keluar untuk minta tolong kepada saya.

Saya keluar dari kamarbacaku, ingin tau apa yang terjadi.

Kulihat isteriku duduk dekat Kiel tanpa sedikitpun melirik ke arahku. Tapi dia menyadari kehadiranku dan segera membalikkan badan membelakangiku. Terlihatlah isteriku dengan baju kesayangannya…., dan benar kacingnya belum terpasang.

Sambil tertawa kudekati isteriku, dan diapun diam sambil tersenyum di kulum. 

Tanpa basa-basi, resleting bajunya pun kupasang ….

Daripada halak mangkancing ….?????

→ 10 CommentsCategories: Suami isteri

Uang Makkan

September 7, 2008 · 2 Comments

(Selingan Khotbah Pdt. David Silaban – Pendeta HKBP Ujung Surabaya – di HKBP Kedondong Surabaya Minggu, 7 September 2008)

Manusia pada umumnya berpikir, bagaimana bisa dapat makan tanpa harus bekerja. Bahkan kalau bisa, dengan goyang-goyang kaki saja, uang datang.

Cara berpikir seperti inilah yang membuat orang mengusahakan cara  gampang untuk mendapatkan uang, misalnya; melalui judi, mencuri, ke dukun dan lain lain.

Bapak si Ruhut, yang masih berusia relatip muda, 43 tahun sudah terkontaminasi cara berpikir demikian. Kesehariannya dihabiskan di meja judi. Mulai dari Jokker Karo, Domino, Lang dan hampir semua jenis judi di lingkungannya dapat dikuasai. Dan lingkungannya pun sudah mengetahui kebiasaan jelek Bapak si Ruhut ini.

Bukan hal yang luar biasa baginya, pabila 4 atau 5 hari nonstop di meja judi. Dia bisa melupakan bahwa dirinya belum makan jika sudah mulai pegang kartu.

 Hari itu, tidak terasa mereka sudah di meja judi selama 3 hari. Dan baru sadar, perut sudah keroncongan. Bapak si Ruhut pun pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang ke rumah, agak malu juga dia rupanya. Lagian dia pikir, kalau sudah di rumah nanti, sudah susah keluar lagi kalau ada yang ajak.

Ketemulah dia dengan si Jonggara yang Panglatu itu.

“Lae, minta uang mu dulu Lae. Lapar pula aku.”, dia menyapa si Jonggara.

“Udah tiga hari puang aku gak makan …”: katanya melanjutkan dengan jujur.

Jonggara yang sudah tau kebiasaan Bapak si Ruhut tidak lansung mempercayai alasan Bapak si Ruhut.

“Ahh…, paling juga untuk kau pakai marjokker lagi Lae ….”

“Aduh lae…, aku nggak bohong lah. Memang aku belom makan daba …”, sambil menunjukkan rona muka memelas, Bapak si Ruhut meyakinkan Jonggara.

“apa jaminannya Lae, kalau uangnya bukan untuk Lae pake main judi ?”, Jonggara ingin menguji keseriusan Bapak si Ruhut.

“Percayalah Lae….., kalau untuk main judi aku masih punya uang nya ………….”, sambil mengeluarkan segepok uang dari kantongnya Bapak si Ruhut menjawab Jonggara.

“Untuk makannya aku gak punya uang …..”

??????

→ 2 CommentsCategories: Jokker

Halaman tolu

September 1, 2008 · 4 Comments

Kerja sama antara 2 orang calon Parhata ini memang pantas dihargai. Kebetulan mereka berdua termasuk “korban” dari kesepakatan Punguan masing-masing. Dengan alasan regenerasi, mereka berdua ditunjuk oleh marganya untuk jadi Parhata.

Persiapan pun dimulai. Mereka berdua sepakat untuk masing-masing mencari referensi dan selanjutnya nanti dibahas kembali untuk menjadi tuntunan final saat acara adat berlangsung.

Bagaikan menulis skenario sebuah pentas puisi, mereka berhasil menyiapkan 11 halaman berisi urutan acara dan umpasa yang akan disampaikan saat pesta.

Pinggan panungkunan -piring terbang berisi beberapa lembar uang yang menjadi hak Parhata- baru saja berjalan. Lembaran skenario disiapkan di atas meja.

Sampai tahap “mambagi jambar” – membagi potongan daging kehormatan bagi yang berhak- acara berjalan lancar.

Untaian kata-kata berbalasan kedengaran indah membuat pelatih / sekondan – tetua marga yang menunjuk mereka jadi Parhata - kedua Parhata ini mengacungkan jempol berkali-kali.

“Pasahat hamu ma jo ulos tu ibotona …..” – Mohon diberikan ulos kepada saudara perempuan dari pengantin- tiba-tiba Parhata dari pihak Laki-laki mebacakan lembaran skenario di hadapannya.

Parhata dari Pihak Wanita tampak bingung. Dalam hati dia menuduh Parhata dari Pihak Laki-laki berkhianat menyalahi kesepakatan untuk mempermalukan dirinya. Lembar demi lembar skenario dibalik balik.

” Halaman tolu do pe, pintor tu halaman lima hamu ? ” .. – kita masih di halaman tiga, kenapa kamu sudah ke halaman lima- dengan lantang Parhata Pihak Wanita membalas sambil berkecak pinggang.

Mendengar pertanyaan dari Parhata Pihak Wanita, mata Parhata Pihak Laki – laki terbelalak. Malu.

Dia baru sadar, 2 lembar kertas skenario dari mejanya telah beralih fungsi sebagai pembungkus jambar dan masuk di salah satu kantong kresek seorang ibu di belakangnya ……

Maupma …, mangkanya belajar ke Partaolobutala ……

→ 4 CommentsCategories: pesta adat

Durung-durung

August 29, 2008 · 10 Comments

Amang St. X ini memang gak pernah minta untuk jadi Sintua di Gerejanya. Dia sadar betul akan kemampuan dan kekurangannya. Bila dia diijinkan melakukan sesuatu hal yang kecil saja di Gereja, dia sudah sangat senang.

Dia seorang yang lugu, polos dan sederhana. Dia melakukan seluruh pekerjaannya dengan ikhlas dan selalu sigap. Mulai dari menyiapkan stensilan, mengantar surat bahkan menjenguk Jemaat yang sakit dia selalu tampil duluan.

Memang, bukan permintaannya menjadi Sintua. Tapi itu sudah menjadi keputusan Parhalado yang disetujui oleh hampir semua Jemaat.

Sesuai dengan kemampuannya, dalam kegiatan Kebaktian baik kebaktian Minggu maupun Kebaktian Wilayah, dia tidak pernah menjadi Pemimpin Ibadah (Paragenda). Tapi yang pasti, dia selalu ikut dalam team “papungu pelean” – kollektor persembahan.

Suatu sore, saat dia membersihkan ruang konsistori Gereja ada panggilan telepon mencari Amang Pendeta. Dalam pembicaarn telepon dia sampaikan bahwa Amang Pendeta lagi keluar. Si Penelepon tadi mengatakan bahwa ada seorang bayi lagi kritis di Rumah Sakit dan mengharapkan Amang Pendeta segera datang. Dengan sigap dia mencoba menghubungi Amang Pendeta lewat Flexinya, ternyata Flexinya pun ditinggal di rumah. Dia tidak habis akal, dia pesankan kepada orang di rumah Amang Pendeta agar segera ke Rumah Sakit dan dia sendiri segera beranjak pergi ke Rumah Sakit duluan.

Sesampai di Rumah Sakit, terlihat orangtua si bayi yang sakit dan beberapa anggota keluarga lain sudah panik. Si bayi sudah semakin kritis. Saking paniknya, beberapa anggota Keluarga jadi tidak tau apa yang mau dilakukan.

“Ayo Amang Sintua, lakukan sesuatu dong….”, kata salah seorang anggota Keluarga, kepada Amang St. X.

“Apa yang mau saya lakukan ?”, kata Amang St. X  yang juga ikut bingung.

“Yang biasa dilakukanlah Amang ….”, lanjut keluarga yang memohon tadi. Maksudnya supaya dilakukan “pandidion na hinipu” – sakramen babtisan khusus – terhadap si bayi yang lagi kritis, karena memang dia belum dibabtis di Gereja.

Amang St. X berpikir sejenak. Dia segera keluar ruangan dan kembalinya membawa sebuah kantong kertas ……

Dengan berjalan berkeliling dia sodorkan  kantong kertas tadi kepada seluruh anggota keluarga …….. “papungu pelean” seperti yang biasa dia lakukan .

→ 10 CommentsCategories: Umum

Jangan Cari Kerja

August 29, 2008 · 3 Comments

Dalam situasi sulit seperti sekarang ini, kalau belum dapat pekerjaan:
saya sarankan : “JANGAN CARI KERJA”

Masuk kategori apa saran saya : ” Sumbang saran “, atau ” Saran sumbang ” ?

Tapi maaf rekan, ini hanya pemikiran saya sendiri koq. Namanya juga mencoba sharing.

Bila kita fokus untuk cari kerja, konsep yang ada di pikiran kita :
a. Kita sudah siap untuk kerja apa saja
b. Kita sudah siap untuk diperintah
c. Kita sudah siap menerima take home pay yang akan diberi juragan kita
d. dan lain-lain, yang artinya kita sudah memposisikan diri siap menjadi pekerja/buruh.

Coba kita robah konsep yang ada di kepala kita menjadi :

Pertama : Kita mencari orang yang mau membayar kita, dan selanjutnya

Kedua : Kita mencari orang yang mau kita bayar

→ 3 CommentsCategories: Umum

Jadi, ngapain…??

August 28, 2008 · 8 Comments

Sehabis Kebaktian Minggu, Suami isteri yang menjadi topik kita kali ini tidak langsung pulang ke rumah. Hal seperti ini bisa terjadi 3 kali dalam sebulan. Karena mereka ikut aktip arisan Dongan Tubu, Hula-hula dan Parsahutaon.

Kali ini Minggu kedua adalah jadwal arisan Hula-hula. Si Inang menjadi Bendahara arisan dalam Punguan mereka.  Sebelum berangkat ke Gereja, segala perlengkapan arisan sudah dimasukkan dalam tas : Buku peserta arisan, nomor undian pemenang arisan juga kupon lotre yang telah disepakati untuk tambahan Kas Punguan. Sambil bersolek, Inang kita ini sudah tidak bisa diam memberi perintah atau sekedar mengingatkan suaminya, apakah barang-barang dimaksud sudah dimasukkan di tas. Karena Inang ini sudah gak bisa diganggu dalam mempersiapkan riasan wajahnya untuk tetap tampil cantik mulai pagi di gereja sampai sore di arisan.

“He Pak, udah kau masukkan pulpen ke tas itu ? Kocokannya jangan sampai ketinggalan yaa……..” , pertanyaan ini mungkin sudah ada 5 kali ditanyakan, tapi tak satupun pertanyaan mengatakan :

” Sudah kau masukkan Alkitab ke tas itu ? “

Untunglah, si Bapak yang sabar udah gak merasa asing dengan kondisi itu. Semua dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan konflik di antara mereka.

“Pak, Kau lihat gak tadi baju yang dipake inang Tobing itu ?”, kata isterinya sambil menepuk pundak suaminya yang lagi nyetir mobil menuju tempat arisan.

“Nggak, aku gak perhatiin”, kata suaminya membalas seadanya.

“Persis seperti baju yang kupakai waktu pestanya par PE EL EN bulan lalu, hanya dia warna biru sedangkan bajuku agak orange. ” isterinya melanjutkan.

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, suaminya sudah membayangkan kalimat apa yang akan dikeluarkan oleh isterinya kemudian. Paling juga tidak jauh dari pakaian atau perhiasan yang dipakai oleh ibu-ibu lain di gereja tadi.

“Inang Hutabarat itu yang hebat bah ….” kata isterinya lagi

“Tas seperti yang dipakainya tadi, aku tanya kemarin di TP harganya 1,8 jt. Nggak sanggup lah awak belinya. Kau lihat gak tasnya itu tadi ?” kembali pertanyaan dilontarkan kepada suaminya.

“Nggak, ngak lihat aku , tadiii……”

“Jadi ngapain nya kau di Gereja ?” kata isterinya agak keras sebelum suaminya melengkapi jawabannya ……… 

???????

→ 8 CommentsCategories: Suami isteri

Nga sega ……

August 27, 2008 · 7 Comments

Masa-masa sekarang, cukup memusingkan bagi beberapa Pengurus Punguan Batak di Surabaya. Karena mereka sudah mulai merancang acara Pesta Bona Taon Punguan masing-masing. Lobby lobby kepada anggota Punguan yang selama ini sebagai donateur sudah mulai dijalankan. Bahkan eks anggota Punguan yang selama ini sebagai donateur dan sudah pindah ke luar Jawa Timur pun, tak luput dari penelusuran.

Daftar Anggota yang belum bayar yuran tahunan kembali di ekspos saat Punguan Rutin bulanan. Tak lupa juga, daftar bon dan lelang tahun lalu yang belum dibayar …….

“Mau diputihkan ??” , kata-kata ini sering keluar dari Bendahara. ” Waktu lelang tahun lalu, dia bersemangat sekali untuk jadi pemenang, saat mau bayar bermacam alasan yang keluar ……”

Pada intinya, segala upaya dilakukan untuk mempersiapkan dana untuk Pesta Bona Taon.

Tapi yang paling memusingkan Pengurus saat ini : Beberapa Gedung Pertemuan tidak bersedia lagi memberikan ijin pemakaian untuk acara Batak ……

“Baaahhh ……..”

Belakangan ini, salah satu Gedung tidak mengijinkan pemakaian untuk acara Batak terhitung mulai tahun 2009 dengan alasan : Batak susah diatur. Saat terjadi kesepakatan sewa, orang Batak berjanji mentaati semua ketentuan, termasuk di dalamnya charge untuk kelebihan waktu. Ternyata realisi yang terjadi , si Penyewa sudah mengedepankan marah dan komplain bila ditagih charge kelebihan jam.

Yang paling fatal lagi terjadi beberapa waktu yang lalu.

Saat Pesta berlangsung, beberapa pedagang asongan Batak menggelar dagangannya. Mulai dari ulos, ikan teri, terong, tauco bahkan sampai Kamput. Beberapa orang yang minum saat itu sudah tidak dapat mengontrol diri. Petugas Keamanan Gedung mengingatkan dan dibalas dengan makian dan umpatan lain dari halak hita yang minum tadi yang berbuntut terjadi keributan. Padahal, gedung ini salah satu tumpuan harapan untuk acara Pesta Batak selama ini.

Lantas bagaimana dong ????

→ 7 CommentsCategories: serius

Kristiono

August 25, 2008 · 6 Comments

Kenalkan ….Namanya Kristiono

Dia bangga sekali saat DIRUT TELKOM dijabat oleh orang yang sama namanya dengan dirinya. Dia berdomisili di Surabaya berdekatan dengan lokalisasi terkenal di kota ini.
Kukenal dia saat usianya 57 tahun.
Saat itu yang namanya komputer belum merakyat seperti sekarang ini.
Di dinding luar rumahnya, terpampang papan nama “BIRO JASA”, mampu melayani apa saja.

Dalam obrolan saya dengan beliau, keluar pengakuan bahwa dia hanya tamat SD.
Ketertarikan saya untuk singgah, karena melihat salah satu item jasa yang ditawarkan :
” Penyalur Tenaga Kerja “.

Saya disapa dengan sangat bersahabat seperti 2 sahabat lama yang baru ketemu.Satu per satu pertanyaanku menyangkut kesiapan dia dalam menyediakan jasa penyalur tenaga kerja dijawab dengan lancar dan meyakinkan.

Sekali waktu pertanyaanku ngelantur tentang pengurusan pemasangan wartel ( yang memang saat itu pemasangan wartel lagi booming di Surabaya ), dan dia jawab dengan meyakinkan “BISA”, sambil mengeluarkan sebuah Buku Pintar dari lacinya.

Ternyata di dalam laci tersebut, bukan hanya sebuah buku; melainkan ada 3 buah Buku Tulis besar, 2 buah sudah kelihatan lusuh dan satu lagi masih terlihat bersih.

Setelah dia membalik-balik lembaran buku itu, dengan lega dia menjawab .
“Hah ini dia, saya punya teman orang Telkom untuk urusan pasang Wartel”.
Yang membuat saya kaget adalah bahwa nama yang dia sebut itu adalah nama saya ( eh, eh ketahuan juga saya kerja di TELKOM ya ) lengkap dengan nomor telepon. Untungnya saat ketemu tadi tidak ada perkenalan nama.

3 buah Buku besar, berisi nama dan nomor telepon orang-orang yang disebut mitra, ditulis dengan tangan sendiri yang saya sendiri juga tidak tau sumbernya dari mana.

Rekan……,Keuletannya, dan kepiawiannya menggunakan data membuat dia mampu menghidupi keluarganya dan membuatku terperangah dan juga terpukul membayangkan dia yang hanya tamat SD dan sudah berusia lanjut.

Apakah kita orang Batak mempunyai keuletan seperti ini ?

→ 6 CommentsCategories: Umum

Ala ni ho …..

August 25, 2008 · 4 Comments

(cuplikan intermezzo khotbah Pdt. Samuel Sibuea ( HKBP Solo ) pada Kebaktian Minggu 24 Agt 2008 di HKBP Surabaya jam 09.00)

Kunjungan Seksi Ama HKBP Solo dan persiapan Huria Boyolali ke HKBP Surabaya hari Minggu kemarin diwarnai dengan canda tawa, gembira dan penuh keakraban.  Pendeta Samuel Sibuea sebagai Pimpinan rombongan didaulat sebagai Pelayan Pemberitaan Firman.

Dari awal perkenalan beliau di atas mimbar, sudah diisi dengan joke joke menyegarkan , gaya seorang Pendeta Muda. Kawannya sesama Pendeta yang bertugas di Surabaya pun tak lepas dari plesetan beliau.

Saya terkejut saat dia melontarkan improvisasi dalam khotbahnya.

“Adalah seorang Bapak yang mempunyai kebiasaan kurang baik setiap kebaktian berlangsung”, demikian beliau mengawali.

“Bila Pendeta sudah naik ke mimbar untuk pemberitaan Firman, si Bapak ini selalu keluar, dan akan kembali lagi menjelang khotbah selesai”,lanjutnya.

“Menyinggung aku pula Pendeta ini”, begitu pikirku.

“Hal yang sama, terjadilah pada suatu kebaktian. Pendeta naik ke mimbar, dan si Bapak tadi pun keluar”,  Pendeta Samuel melanjutkan , tidak tau perasaan apa yang terjadi dalam diriku.

“Dalam khotbahnya mengenai pengorbanan Yesus di kayu salib, Pendeta menguraikan penderitaan Yesus, disiksa, ditendang, diludahi dan dihina, membuat Jemaat turut terbawa dalam suasana sedih …”, demikian Pendeta Samuel bercerita.

“Mendekati akhir khotbahnya, dengan tegas Pendeta berkata : ” Saudaraku, karena dosa kita lah Yesus mati. “

“Hai Naposo bulung (Pemuda), karena dosa kitalah Yesus disiksa.”

“Ala ni dosa muna do angka inang, umbahen na tarsilang Yesus i” (Karena dosa-dosamu lah para ibu-ibu Yesus sampai disalibkan)

Pintu terbuka, si Bapak yang tadi keluar memperhitungkan khotbah akan berakhir kembali memasuki gereja.

Belum sempat dia duduk, Pendeta melanjutkan khotbahnya.

“Ala ni ho do amang, umbahen na tartullang Yesus i” (Gara-gara kamu Bapak, Yesus kena tombak)

“Pargabusss….,” ( Pembohong….. ) si Bapak yang tidak tau kronologis khotbah berteriak protes membuat semua mata memandang ke arahnya. 

Ah…, Pendeta Samuel ini ada-ada juga …….

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized